Semarang - Taruna Akademi Kepolisian yang merokok di dalam maupun di luar kampus akan mendapat sanksi.
“Kalau ketahuan merokok, maka pembina taruna akan mencatatnya sebagai pelanggaran perilaku dan nilai kepribadiannya akan dikurangi,” kata Gubernur Akademi Kepolisian (Akpol) Irjen Pol Sutjiptadi di kampus Akpol, Semarang, Selasa.
Ia menyatakan, nilai pelanggaran merokok akan diperhitungkan untuk mengurangi nilai kepribadian yang menjadi salah satu syarat bagi taruna untuk naik tingkat atau lulus dari Akpol.
“Satu kali merokok bisa kena pengurangan nilai 0,01. Pengurangan nilai karena merokok sangat berarti. Taruna tidak naik tingkat dan tidak lulus bila nilai kepribadian kurang dari 70. Cari nilai 1 untuk kepribadian saja susah kok, apalagi harus dikurangi karena merokok,” katanya.
Menurut dia, aturan larangan merokok itu dibuat untuk membuat pribadi perwira Polri yang utuh agar tidak terjerumus dengan zat berbahaya bagi tubuh.
“Merokok itu jadi pintu awal untuk masuk dunia Narkoba,” katanya menegaskan.
Sayang, larangan itu belum berlaku bagi para pembina, dosen dan semua polisi yang berdinas di Akpol karena mereka masih diperbolehkan merokok.
“Yang dilarang’kan hanya taruna. Pembina dan dosen kan bukan taruna tapi sudah menjadi polisi, maka ya boleh-boleh saja merokok” katanya.
Ia menyatakan, tindakan larangan merokok bagi taruna dan tidak ada larangan merokok bagi non taruna itu bukan tindakan diskriminatif tapi dalam rangka pembinaan saja.
“Ini merupakan ujian bagi taruna. Taruna harus mampu mengubah kebiasaan merokok saat ada orang di sekitarnya merokok,” katanya.
Sutjiptadi juga tidak melarang kantin dalam kampus Akpol menjual rokok.
Soal pacaran, ia menyatakan, hal itu tidak dilarang termasuk jika ada taruna laki-laki berpacaran dengan taruna wanita di dalam kampus.
“Pacaran kan hak asasi. Tidak bisa dilarang. Yang tidak boleh adalah pacaran yang melanggar aturan dan hukum yang ada,” katanya.
Sucofindo Akan Audit Rutin Seleksi Taruna Akpol
Semarang - Dirut PT Sucofindo, Arif Safari, mengatakan pihaknya akan mengaudit secara rutin proses seleksi taruna Akademi Kepolisian (Akpol) kendati lembaga pendidikan Polri ini telah meraih ISO 9001: 2000 untuk sistem manajemen mutu.
“Tim audit Sucofinco akan terus awasi setiap tahun,” katanya di sela-sela acara sidang terbuka penerimaan taruna Akpol tahun 2008 di kampus Akpol, Semarang, Senin.
Ia menyatakan perbaikan untuk arah yang lebih baik akan tetap dilanjutkan kendati ISO telah diraihnya.
Menurut dia, Polri tidak mudah untuk mendapatkan ISO karena melalui proses yang cukup panjang dengan melibatkan dukungan dari berbagai pihak.
“Kami tahun 2007 sudah terlibat dalam evaluasi rekrutmen namun masih ada yang harus dilengkapi,” katanya.
Dengan bantuan berbagi pihak, katanya, kekurangan dalam seleksi Akpol 2007 dapat diperbaiki di tahun 2008 sehingga layak untuk disertifikasi ISO 9001: 2000.
“Kami bangga ikut mendukung good governance (pemerintahan bersih). Kami apresiasikan atas komitmen Polri yang mampu mengubah proses penerimaan calon taruna menjadi bersih, akuntabel dan humanis,” ujarnya.
Ia mengatakan perubahan di tubuh Polri memang mendapat resistensi dari pihak lain yang merasa tersingkir dengan pola seleksi yang transparan.
“Dengan komitmen tinggi, setiap resistensi dapat diatasi,” katanya.
ISO bagi Polri tidak saja untuk memuaskan para taruna tapi telah menjadi kebutuhan bagi setiap instansi untuk menyempurnakan mutu.
Hingga kini Sucofindo telah memberikan sertifikat ISO kepada 1000 organisasi dan instansi termasuk empat ISO untuk sistem managemen pengamanan.
Wakapolri Komjen Pol Madmanagara dalam acara itu menegaskan, proses penerimaan taruna Akpol 2008 dijamin secara profesional dan tidak satu pun yang mengeluarkan uang suap.
“Kita berharap semua masyarakat ikut mengawasi proses penjaringan calon taruna. Soal duit-duit, itu sudah tidak ada lagi,” katanya.
Proses seleksi taruna Akpol 2008 ini, katanya, juga mampu meraih ISO 9001: 2000 untuk sistem managemen mutu sebagai jaminan bahwa seleksi berlangsung secara transparan, akuntabel dan humanis.
“Tahun 2007, seleksi taruna dapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI), tahun 2008 kita dapat ISO. Tahun 2009, kita pertahankan ISO,” katanya.
Ia mengatakan jika Polri tidak mampu menjaga mutu seleksi taruna maka bisa saja ISO yang diberikan akan dicabut dan jika itu benar terjadi maka nama baik Polri akan jatuh di mata masyarakat.
“Dicabutnya ISO itu lebih menyakitkan. Ini beda dengan saat meraih yang diwarnai suasana gembira,” ujarnya.
Jika di masa mendatang, ada masyarakat yang mempertanyakan konsisten Polri karena tidak lagi seperti standar ISO, maka polisi akan dinilai tidak konsisten.
“Saya minta semua pihak ikut awasi proses seleksi demi kepentingan bangsa dan negara,” katanya.(Sumber)
Rekrutmen Calon Taruna Akpol Raih ISO 9000
Jakarta - Proses rekrutmen calon taruna Akademi Kepolisian (Akpol) di Polda Metro Jaya meraih ISO 9000 sebab dinilai berhasil menyelenggarakan seleksi secara transparan.
Penyerahan ISO itu dilaksanakan usai acara sidang penetapan kelulusan calon taruna di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ketut Untung Yoga Ana mengatakan, proses penerimaan taruna Akpol yang dilaksanakan selama dua tahun terakhir di Polda Metro Jaya ternyata mendapatkan perhatian dari salah satu lembaga di Perancis.
“Tahun ini, kita menerima ISO 9000 sebagai bukti bahwa proses rekrutmen calon taruna telah berlangsung secara profesional,” ujarnya.
Proses yang sangat terbuka itu membuat para peserta dan para orang tua dapat menerima ketidaklulusan dengan terbuka kendati tetap menyisakan kesedihan.
Sebelum dinyatakan lulus sebagai calon taruna, panitia terlebih dahulu mengundang panitia pengawas eksternal seleksi antara lain dari Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, LSM, Komisi Kepolisian Nasional dan Ikatan Dokter Indonesia.
Panitia, pengawas eksternal, calon taruna, orang tua dan masyarakat umum dapat melihat proses penentuan kelulusan dengan menggunakan lima layar lebar di gedung pertemuan Polda Metro Jaya.
Panitia mempersilahkan semua pihak untuk mengajukan keluhan dan keberatan dalam setiap tahapan penghitungan nilai namun hingga tahap terakhir tidak ada satu pun keberatan .
Nilai tes yang dijumlah secara bersama-sama dan disaksikan untuk umum itu adalah kesehatan dengan bobot 25 persen, jasmani dengan bobot 10 persen, psikologi 25 persen dan akademik 40 persen.
Jika ada nilai yang sama maka peringkat akan ditentukan dengan nilai akademik yang tertinggi.
Usai nilai terjumlah, panitia segera membuat daftar urutan nilai tertinggi hingga terendah.
Hasilnya adalah, sebanyak 30 orang dengan nilai tertinggi diterima sebagai calon taruna dan akan mengikuti tes di tingkat nasional di kampus Akpol Semarang.
Di kelompok putri, panitia meloloskan lima calon taruna dengan nilai tertinggi.
Akpol Terima 300 Orang dari 3.379 Sarjana
JAKARTA - Dari 3.379 orang sarjana yang mendaftarkan diri menjadi siswa Akademi Polisi (Akpol) 2008, hanya 300 orang yang diterima.
“Dari jumlah pendaftar itu, hanya sepuluh persen atau sekitar 300 orang yang akan diterima dan mendapat biaya dari negara,” ujar Kadiv SDM (sumber daya manusia) Polri Irjen Bambang Hadiyono di Mabes Polri, Rabu (23/7).
Menurut Bambang, semua pendaftar itu terdiri dari sarjana S1 dan S2 dari seluruh Indonesia. “Tahun ini tidak ada satupun yang diterima dari sekolah menengah atas. Kalau tahun lalu, karen peralihan, masih ada 70 siswa yang terbaik yang diterima,” ujar Bambang.
Menurut dia, penerimaan siswa sekolah Akpol, akan dilakukan secara transprant dan makin selektif. “Kita akan menghilangkan peluang terjadinya KKN pada penerimaan siswa,” ujar Bambang.
Dikatakannya, untuk menunjang transparansi dalam penerimaan siswa, maka dilakukan pengumuman setiap ujian secara terbuka. Begitu juga penghitungan semua nilai ujian, akan dilakukan secara terbuka, Sehingga tidak ada kemungkinan, seorang panitia ujian mengurangi, menambah atau mengubah nilai peserta ujian. “Penghitungan nilai keseluruhan ujian dan penentuan siapa yang lulus, akan dilakukan secara terbuka dan tranparan, agar tidak ada KKN, dalam penentuan siapa yang lulus masuk Akpol,” ujar Bambang.
Untuk menunjang tranparansi, Polri juga mengocokkan soal untuk menentukan soal mana yang akan dikeluarkan nanti. Kemudian, 100 soal yang sudah dipilih, akan disimpan di dalam peti, dengan dua kunci yang dipegang anggota, yang di luar Polri.
“Untuk membuat sistem penerimaan terbuka dan tranparan, maka kita mengajak LSM, wartawan dan element masyarakat lainnya serta orang tua calon siswa Akpol, untuk menjadi saksi dalam penentuan soal, penentuan penilaian dan penentuan siapa yang lolos,” ujar Bambang,
Saat ditanyakan, apakah tes itu bisa menjamin polisi tidak bertabiat menyimpang, atau main tembak, menurut Bambang, Polri makin mengetatkan tes psikologis. “Hanya siswa yang berkepribadian baik, sehat jasmani dan rohani serta cerdas, yang akan diterima,” ujar Bambang.